“Hari
ini ada PR Matematika?! Aduh, gw lupa lagi gimana nih?” Teriak gw.
Selembar demi lembar gw buka secara cepat. Hari ini ada pr matematika
dan untuk yang kesekian kalinya gw lupa mengerjakannya.
“Woles aja kali, palingan
gurunya gak meriksa” Kata Riyana dengan tenang sambil membuka buku
tulisnya yang masih kosong itu.
Tak
lama kemudian, gurunya pun datang.
Sip,
“gw bakal di luar lagi” batin gw
Assalamualaikum
anak-anak
Waalaikumsalam
bu
Mohon
prnya dikumpulkan
Hampir
semua murid mengumpulkan pr-nya, kecuali gw dan beberapa teman-teman
gw.
Gw
angkat tangan.
“Bu,
yang gak ngerjain gimana?”
“Kerjain
pr-nya diluar!” jawabnya tenang tapi pandangannya menusuk.
Dengan
langkah gontai, gw keluar kelas dan duduk di dekat tembok kelas luar.
Gw membuka buku dan menatap langit.
Gw
sebenarnya bisa mengerjakan semua ini, hanya saja kemalasan gw
membuat gw gak mengijinkan untuk mengerjakan pr super gampang ini.
Pemandangan
di luar sangat sepi, hanya ada beberapa anak yang bermain bola basket
dan duduk di selasar kelas. Dan gw sendirian.
Gw
menatap sekeliling, gw hanya bisa melihat seorang guru yang duduk di
kursi santainya sambil memakai kaca mata hitamnya. Disampingnya,
duduk seorang murid dengan berparas sangat cool. Gw tau dia. Dia
adalah salah satu anggota tim basket di sekolah gw. Seperti yang
kalian bayangkan tentang anak basket, ia memiliki badan yang cukup
tinggi, hidung mancung, kulit putih, dan perawakannya yang agak
misterus. Dan gw ngerasa, itu cukup MENARIK.
Cukup
lama gw memperhatikan dia dan tiba-tiba dia berpaling ke arah gw,
seolah-olah dia tau gw sedang memperhatikannya.
Saat
pelajaran matematika selesai dan hukuman gw telah habis, gw masuk dan
membuka buku untuk pelajaran selanjutnya. Seperti rutiitas biasanya
di sekolah kami, siswa yang kelasnya sedang jamkos (jam kosong)
biasanya akan membawa kantong amal dan berkeliling ke satu sekolah
sambit meminta amal seikhlasnya. Waktu itu sedang pelajaran IPS,
pelajaran yang super duper membosankan. Gw membayangkan apa kegunaan
ekonomi, geografi, sosiologi, sejarah di masa depan gw nanti. Apakah
saat gw di-interview pekerjaan gww akan ditanya “Kapan Ibu Kartini
lahir?” I dont think so.
Seseorang yang meminta amal
datang. Gw cukup lega karena gw tidak harus duduk 1 jam berhadapan
dengan pelajaran membosankan ini.
“Assalamualaikum, tromol
(amal)!”
Seorang siswa masuk ke kelas
kami, dia adik kelas. Setidaknya, gw bisa menunjukkan wajah
senioritas gw ke meraka. Ketika salah seorang siswa lain masuk dan
membawa kantong amal masuk. Gw kaget.
Wait! He’s Him! Dia orang
yang gw liatin dari tadi. Doi berjalan ke arah gw dan gw memberikan
uang dan dia berjalan menjauh.
“Lo tau siapa namanya?”
“yang bawa kantong amal itu?
Namanya Ivan”
Ivan, nama itu sudah tertempel
di otak gw.
Istirahat pun datng. Gw keluar
kelas dengan wajah setengah mengantuk.
Keadaan sekolah saat itu
sangat ramai. Siswa-siswi berjalan kesana kemari bersama
teman-temannya. Ada yang sekedar duduk di selasar kelas dan pendopo,
dan sebagian yang lain bermain basket dan futsal di lapangan.
Hari itu berjalan seperti
biasanya, tidak ada yang istimewa. Gw memutuskan unutk duduk di
bangku selasar kelas. Merenungkan sesuatu.
Apa yang gw cari sebenarnya
disini? Apa yang mengganjal di hati gw? Pertanyaan itu selalu
terlontar setiap saat di hati gw. Gw memperhatikan sekitar. Ada
beberapa orang yang membentuk kelompok, mereka membicarakan tentang
kpop dan semacamnya. Di lapangan, ada beberapa anak laki-laki dan
satu perempuan bergantian merebut bola untuk memasukannya ke dalam
ring. Sebagian dari mereka kembali duduk di bawah pohon rindang dan
duduk di samping coach mereka. Di selasar kelas, ada beberapa
pasangan yang menjalin hubungan pacaran sedang mengobrol serius,
terkadang mereka tertawa, terkadang mereka kembali diam dengan nyaman
ketika sang cowok sedang membicarakan sesuatu.
Dan gw disini, sendiri.
Gw adalah orang yang cukup
introvert, merasa bicara banyak adalah sesuatu yang dianggap tidak
perlu. Beberapa dari mereka mungkin menganggap gw culun. Cuman
anak cewek yang ngerem di bangkunya sambil membaca novel atau
komik dan tidak melakukan apa-apa selain itu.
Bisa dibilang gw cukup pinter.
Bukannya gw sombong, tetapi gelar 1-5 besar sudah biasa gw raih di
setiap semester. Gw punya temen, gak banyak, tapi cukup menyenangkan
buat gw. Lalu, apa lagi yang gw cari?
Cinta?
Cinta atau semacamnya sudah
sering gw temui di novel yang gw baca. Beberapa film dan lagu juga
biasanya menggambarkan tentang cinta. Isinya pun juga gw ngerti dan
paham. Tapi masalahnya, gw belum ngerasain cinta, ke lawan jenis.
Atau biasa sering disebut…..
Cinta Masa Sekolah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar