Ryan
Siapa dia?
Dia adalah doi pertama
gw di masa SMP. Lo tau doi itu apa? Doi adalah orang yang kita suka
tetapi hanya sebatas teman. Banyak hal yang membuat gw suka sama dia.
Semangat dia, senyum dia, dll. Niatnya, gw gak mau memasukkan nama
ini ke dalam cerita gw, tapi dia punya peran besar di dalam cerita
ini.
Lanjut, dia anak sepakbola,
tubuhnya yang pendek membuat dia bisa mengoper bola dengan cepat dan
lincah. Dia anak sekolah sepak bola, bisa dibilang dia cinta sepak
bola.
Dia punya doi? Ada. Namanya
Karin. Tubuhnya tidak jauh lebih tinngi dari Ryan. Sama-sama atlet.
Yang satu sepak bola dan yang satu lagi atlet renang. Pasangan yang
cocok bukan? Dua pasangan atlet yang cinta olahraganya masing-masing.
Terus, disini peran gw apa?
Sejujurnya, rasa ini tumbuh waktu gw kelas 7, tapi baru mulai
merasakan klimaks waktu kelas 9. Waktu kelas 7, gw gak tahu
apa-apa. Gw cuman ngliat dia sebagai bayangan dari cerita masa lalu
gw. Suka? Ya….. kayak cinta monyet. Gw gak tahu dimana batas cinta
monyet itu. Apa cuman sekedar suka lalu melupakan?
Atau lebih dari itu?
Let’s start it at class 9
“Ayu, lo gak apa-apa?”
kata Vin
“Kenapa apanya?” balas gw.
Situasi itu sangat hening. Kejadian itu terjadi di sekolah, semua
siswa melihat kearah dua orang itu. Diam, gw gak tahu apa yang gw
rasain di posisi saat ini. Sedih? Sakit? Biasa saja? Atau malah
bahagia?
“Lo gimana sih? Doi lo
nembak sahabat lo sendiri!”
“Gw gak apa-apa” gw
terdiam, sunyi, gak ada suara apapun sampai-sampai detak jantung gw
terdengar.
Gw gak tahu apa yang
seharusnya gw rasain. Gw gak pernah naruh terlalu dalam hati gw ke
seseorang karena gw menganggap itu adalha sesuatu yang gak penting.
Misi gw adalah lulus di tahun
itu dengan nilai memuaskan. Gak ada niatan untuk menaruh hati ke
siapapun. Saat gw melihat Ryan nebak Karin, gw merasa biasa saja.
“Yu, mau sholat dhuha gak?”
panggil nabila. Dia adalah penolong gw di saat-saat seperti ini. Gw
gak ingin diam di kelas dan dilihat oleh sahabat gw dengan rasa iba.
“Ayo” gw mengiyakan.
Sambil berjalan melewati mereka, gw berusaha sebaik mungkin untuk
terlihat tidak peduli.
Gw berjalan di selasar kelas.
GW mulai merenungi apa yang sebenarnya terjadi di kelas tadi. Tangan
gw menyentuh dada. Tepatnya, di bagian hati. Dan gw baru sadar, apa
yang gw rasain di lubuk hti terdalam adalah
Sesak….
Mata gw sudah ingin sekali
mengeluarkan air mata, air mata sudah mengambang di pelupuk, menunggu
untuk dikeluarkan.
“Yu, ayo buruan”
Tiba-tiba, nabila menoleh ke arah gw. Gw menghapus air mata dan
berjalan lebih cepat. Gw memutuskan untuk tidak terlihat di hadapan
nabila dan dihadapan semuanya.
Gw bukan cewek lemah. Gw gak
akan mengeluarkan air mata ini untuk cowok yang gak punya arti
apa-apa di dalam hidup gw.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar