Kamis, 13 Oktober 2016

CHAPTER 2

Ryan

Siapa dia?


Dia adalah doi pertama gw di masa SMP. Lo tau doi itu apa? Doi adalah orang yang kita suka tetapi hanya sebatas teman. Banyak hal yang membuat gw suka sama dia. Semangat dia, senyum dia, dll. Niatnya, gw gak mau memasukkan nama ini ke dalam cerita gw, tapi dia punya peran besar di dalam cerita ini.

Lanjut, dia anak sepakbola, tubuhnya yang pendek membuat dia bisa mengoper bola dengan cepat dan lincah. Dia anak sekolah sepak bola, bisa dibilang dia cinta sepak bola.

Dia punya doi? Ada. Namanya Karin. Tubuhnya tidak jauh lebih tinngi dari Ryan. Sama-sama atlet. Yang satu sepak bola dan yang satu lagi atlet renang. Pasangan yang cocok bukan? Dua pasangan atlet yang cinta olahraganya masing-masing.

Terus, disini peran gw apa? Sejujurnya, rasa ini tumbuh waktu gw kelas 7, tapi baru mulai merasakan klimaks waktu kelas 9. Waktu kelas 7, gw gak tahu apa-apa. Gw cuman ngliat dia sebagai bayangan dari cerita masa lalu gw. Suka? Ya….. kayak cinta monyet. Gw gak tahu dimana batas cinta monyet itu. Apa cuman sekedar suka lalu melupakan?

Atau lebih dari itu?

Let’s start it at class 9

Ayu, lo gak apa-apa?” kata Vin
Kenapa apanya?” balas gw. Situasi itu sangat hening. Kejadian itu terjadi di sekolah, semua siswa melihat kearah dua orang itu. Diam, gw gak tahu apa yang gw rasain di posisi saat ini. Sedih? Sakit? Biasa saja? Atau malah bahagia?

Lo gimana sih? Doi lo nembak sahabat lo sendiri!”
Gw gak apa-apa” gw terdiam, sunyi, gak ada suara apapun sampai-sampai detak jantung gw terdengar.
Gw gak tahu apa yang seharusnya gw rasain. Gw gak pernah naruh terlalu dalam hati gw ke seseorang karena gw menganggap itu adalha sesuatu yang gak penting.

Misi gw adalah lulus di tahun itu dengan nilai memuaskan. Gak ada niatan untuk menaruh hati ke siapapun. Saat gw melihat Ryan nebak Karin, gw merasa biasa saja.

Yu, mau sholat dhuha gak?” panggil nabila. Dia adalah penolong gw di saat-saat seperti ini. Gw gak ingin diam di kelas dan dilihat oleh sahabat gw dengan rasa iba.

Ayo” gw mengiyakan. Sambil berjalan melewati mereka, gw berusaha sebaik mungkin untuk terlihat tidak peduli.

Gw berjalan di selasar kelas. GW mulai merenungi apa yang sebenarnya terjadi di kelas tadi. Tangan gw menyentuh dada. Tepatnya, di bagian hati. Dan gw baru sadar, apa yang gw rasain di lubuk hti terdalam adalah

Sesak….

Mata gw sudah ingin sekali mengeluarkan air mata, air mata sudah mengambang di pelupuk, menunggu untuk dikeluarkan.

Yu, ayo buruan” Tiba-tiba, nabila menoleh ke arah gw. Gw menghapus air mata dan berjalan lebih cepat. Gw memutuskan untuk tidak terlihat di hadapan nabila dan dihadapan semuanya.

Gw bukan cewek lemah. Gw gak akan mengeluarkan air mata ini untuk cowok yang gak punya arti apa-apa di dalam hidup gw.






Kamis, 06 Oktober 2016

CHAPTER 1

 “Hari ini ada PR Matematika?! Aduh, gw lupa lagi gimana nih?” Teriak gw. Selembar demi lembar gw buka secara cepat. Hari ini ada pr matematika dan untuk yang kesekian kalinya gw lupa mengerjakannya.
Woles aja kali, palingan gurunya gak meriksa” Kata Riyana dengan tenang sambil membuka buku tulisnya yang masih kosong itu.

Tak lama kemudian, gurunya pun datang.

Sip, “gw bakal di luar lagi” batin gw

Assalamualaikum anak-anak
Waalaikumsalam bu
Mohon prnya dikumpulkan

Hampir semua murid mengumpulkan pr-nya, kecuali gw dan beberapa teman-teman gw.

Gw angkat tangan.

Bu, yang gak ngerjain gimana?”
Kerjain pr-nya diluar!” jawabnya tenang tapi pandangannya menusuk.

Dengan langkah gontai, gw keluar kelas dan duduk di dekat tembok kelas luar. Gw membuka buku dan menatap langit.

Gw sebenarnya bisa mengerjakan semua ini, hanya saja kemalasan gw membuat gw gak mengijinkan untuk mengerjakan pr super gampang ini.

Pemandangan di luar sangat sepi, hanya ada beberapa anak yang bermain bola basket dan duduk di selasar kelas. Dan gw sendirian.

Gw menatap sekeliling, gw hanya bisa melihat seorang guru yang duduk di kursi santainya sambil memakai kaca mata hitamnya. Disampingnya, duduk seorang murid dengan berparas sangat cool. Gw tau dia. Dia adalah salah satu anggota tim basket di sekolah gw. Seperti yang kalian bayangkan tentang anak basket, ia memiliki badan yang cukup tinggi, hidung mancung, kulit putih, dan perawakannya yang agak misterus. Dan gw ngerasa, itu cukup MENARIK.

Cukup lama gw memperhatikan dia dan tiba-tiba dia berpaling ke arah gw, seolah-olah dia tau gw sedang memperhatikannya.

Saat pelajaran matematika selesai dan hukuman gw telah habis, gw masuk dan membuka buku untuk pelajaran selanjutnya. Seperti rutiitas biasanya di sekolah kami, siswa yang kelasnya sedang jamkos (jam kosong) biasanya akan membawa kantong amal dan berkeliling ke satu sekolah sambit meminta amal seikhlasnya. Waktu itu sedang pelajaran IPS, pelajaran yang super duper membosankan. Gw membayangkan apa kegunaan ekonomi, geografi, sosiologi, sejarah di masa depan gw nanti. Apakah saat gw di-interview pekerjaan gww akan ditanya “Kapan Ibu Kartini lahir?” I dont think so.

Seseorang yang meminta amal datang. Gw cukup lega karena gw tidak harus duduk 1 jam berhadapan dengan pelajaran membosankan ini.
Assalamualaikum, tromol (amal)!”
Seorang siswa masuk ke kelas kami, dia adik kelas. Setidaknya, gw bisa menunjukkan wajah senioritas gw ke meraka. Ketika salah seorang siswa lain masuk dan membawa kantong amal masuk. Gw kaget.

Wait! He’s Him! Dia orang yang gw liatin dari tadi. Doi berjalan ke arah gw dan gw memberikan uang dan dia berjalan menjauh.

Lo tau siapa namanya?”
yang bawa kantong amal itu? Namanya Ivan”

Ivan, nama itu sudah tertempel di otak gw.

Istirahat pun datng. Gw keluar kelas dengan wajah setengah mengantuk.

Keadaan sekolah saat itu sangat ramai. Siswa-siswi berjalan kesana kemari bersama teman-temannya. Ada yang sekedar duduk di selasar kelas dan pendopo, dan sebagian yang lain bermain basket dan futsal di lapangan.

Hari itu berjalan seperti biasanya, tidak ada yang istimewa. Gw memutuskan unutk duduk di bangku selasar kelas. Merenungkan sesuatu.

Apa yang gw cari sebenarnya disini? Apa yang mengganjal di hati gw? Pertanyaan itu selalu terlontar setiap saat di hati gw. Gw memperhatikan sekitar. Ada beberapa orang yang membentuk kelompok, mereka membicarakan tentang kpop dan semacamnya. Di lapangan, ada beberapa anak laki-laki dan satu perempuan bergantian merebut bola untuk memasukannya ke dalam ring. Sebagian dari mereka kembali duduk di bawah pohon rindang dan duduk di samping coach mereka. Di selasar kelas, ada beberapa pasangan yang menjalin hubungan pacaran sedang mengobrol serius, terkadang mereka tertawa, terkadang mereka kembali diam dengan nyaman ketika sang cowok sedang membicarakan sesuatu.

Dan gw disini, sendiri.

Gw adalah orang yang cukup introvert, merasa bicara banyak adalah sesuatu yang dianggap tidak perlu. Beberapa dari mereka mungkin menganggap gw culun. Cuman anak cewek yang ngerem di bangkunya sambil membaca novel atau komik dan tidak melakukan apa-apa selain itu.

Bisa dibilang gw cukup pinter. Bukannya gw sombong, tetapi gelar 1-5 besar sudah biasa gw raih di setiap semester. Gw punya temen, gak banyak, tapi cukup menyenangkan buat gw. Lalu, apa lagi yang gw cari?

Cinta?

Cinta atau semacamnya sudah sering gw temui di novel yang gw baca. Beberapa film dan lagu juga biasanya menggambarkan tentang cinta. Isinya pun juga gw ngerti dan paham. Tapi masalahnya, gw belum ngerasain cinta, ke lawan jenis. Atau biasa sering disebut…..


Cinta Masa Sekolah


Rabu, 05 Oktober 2016

PSCHO ADMIRER

Pscho Admirer


Seorang cewek lugu baru saja terobsesi oleh kapten basket di sekolahnya. Ya bisa dibilang, dia lugu, culun, aneh, polos, atau apapun yang berkaitan dengan penampilannya itu. Tapi, dia mempunyai otak yang cerdas dan suka sekali pada hal-hal misterius. Seperti layaknya Sherlock Holmes masa kini, ia selalu saja waspada pada sekelilingnya, matanya yang tajam selalu menatap lurus tetapi penglihatan dan pendengarannya selalu ada dimana-mana. Dan percayalah, semua itu berubah semenjak ada Jati, seorang pemain basket yang mencuri perhatiannya. Dia mempunya wajah yang cantik, tetapi sayangnya tubuhnya tidak secantik wajahnya. Dia memiliki tubuh yang gendut dan juga pipi yang chubby. Dia memiliki badan yang ‘super’ tinggi yang membuatnya tubuh gendutnya itu tidak terlihat seperti ‘bantet’. Cewek ini, Srikandi, bertemu dengan teman ‘aneh’ dan membuat mereka bertiga menjadi sahabat. Putri dan Nida. Dua orang yang seperti terikat oleh lem, tidak pernah berpisah ataupun lepas. Keobsesiannya itu berawal dari temannya, Putri. Dia menganggap Ivan adalah seorang Abbas (Anak Basket) yang memiliki wajah super duper ganteng.

Sepertinya author terlalu banyak ngasih bocoran, Happy Reading!!!